Inovasi Rumbai Koteka Cerdaskan Generasi Papua, Kapolda Irjen Pol Tornagogo: Pemda Harus Manfaatkan

MANOKWARI,Pabarsatu.com – Kapolda Papua Barat, Irjen Pol. Tornagogo Sihombing, S.I.K., M.Si memaparkan hasil gagasan pendidikan informal khususnya untuk anak-anak Kokoda Kota Sorong yang digagas Bhabinkamtibmas Kelurahan Klawasi Distrik Sorong Barat Bripka Sandry Yusuf Rante Datu.

Gagasan literasi sebagai Inovasi Rumah Belajar Masyarakat Kokoda Klawasi atau yang dikenal Rumbai Koteka tersebut dipaparkan Tornagogo secara virtual kepada 11 Panel Independen .

Para Tim Panel terdiri dari Prof. Dr. JB. Kristiadi, Prof. Dr. Siti Zuhro, Prof. Dr Eko Prasojo, Dadan S Suharmawijaya, Sri Haruti Indah Sukmawati, Haris Turino, Erri R. Harjapameko, Neneg Goenadi, Tulus Abadi, Rudiarto Sumarwono dan Nurjaman Mochtar.

Inovasi Rubai Koteka ini telah berdiri sejak 2017 yang digagas oleh Bhabinkamtibmas kata Tornagogo, kepada Tim Panel Independen Reformasi Birokrasi Nasional dalam kegiatan bertajuk Wawancara Finalis 99 Top Sinovic atau Sistim Informasi Inovasi Pelayanan Publik yang digelar Kemenpan-RB Tahun 2021.

Secara umum, Wilayah Adat Papua dan Papua Barat (Pabar) terbagi atas 7 Wilayah Adat meliputi Domberay, bomberay, Mee Pago, Saereri, Mamta, La pago dan Anim HA. Sedangkan Kokoda merupakan suku asli dari Sorong Selatan yang berada di Pesisir termasuk Keluarga Besar Suku Imeko

“Bisa dikatakan bahwa suku ini merupakan penduduk migran yang sudah menetap puluhan tahun di Kota Sorong,” jelas Irjen Pol Tornagogo Sihombing kepada Tim Panel secara Virtual dari Aston Niu Hotel Manokwari, Jumat (9/7/2021).

Kapolda Tornagogo yang didampingi Kapolres Sorong Kota, AKBP. Ary Nyoto Setiawan dan Babhinkamtibmas Kelurahan Klawasi Distrik Sorong Barat Bripka Sandry Yusuf Rante Datu, mengatakan bahwa, Inovasi Rumbai Koteka, yaitu program ini berlokasi di Kelurahan Klawasi, Distrik Sorong Barat dengan mayoritas masyarakat dari Suku Kokoda.

Kondisi masyarakat di wilayah tersebut masih berada di bawah garis kemiskinan dan juga minim Pendidikan.

“Sehingga menyebabkan masyarakat Kokoda mendapat stigma dari masyarakat lain berupa pola pikir dan kebiasaan yang mengutamakan kekerasan dalam setiap penyelesaian masalah.” jelasnya

Oleh karena itu, kata Tornagogo, Bripka Sandry Yusuf Rante Datu selaku Bhabinkamtibmas Klawasi mempolopori program inovasi Rumbai Koteka sebagai sebuah solusi dalam menghadapi setiap permasalahan melalui pendekatan Satu Tungku Tiga Batu mengandung filsofi perdamaian dan gotong royong.

Program Inovasi tersebut diinisiasi untuk merespon rendahnya tingkat pendidikan dan kesulitan ekonomi Masyarakat di wilayah tersebut. Program Rumbai Koteka sejauh ini memberikan dampak positif bagi generasi khususnya masyarakat kokoda.

“Tersedianya rumah belajar bagi anak-anak usia sekolah di Kelurahan Klawasi sangat membantu peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya bagi anak-anak yang tidak mampu, buta aksara, serta putus sekolah.” tutur Tornagogo kepada Tim.

Selain itu, membangun kepercayaan dan kemitraan antara Polisi dan Masyarakat Kokoda. Adapun metode pembelajaran dilakukan dengan menyesuaikan kondisi Masyarakat Kokoda.

“Melalui kegiatan bernyanyi, menari, olahraga dan bahasa daerah sebagai komunikasu yang dilakukan terhadap Mirid-muridnya dengan menggunakan media belajar seperti buku cerita bergambar, mendongeng dan warna kesukaan untuk mengetahui karakter anak”jelas Kapolda.

Berdasarkan data, diketahui bahwa banyak anak-anak tidak mampu, putus sekolah, dan buta aksara yang terlibat beberapa jenis tindak pidana seperti pencurian, perjudian, menghisap lem aibon, dan pergaulan bebas yang berdampak pada terciptanya konflik sosial yang bersifat anarkis.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Klawasi Distrik Sorong Barat Bripka Sandry Yusuf Rante Datu penggagas Rumbai Koteka. (F-Kris Tanjung)

“Setelah program Inovasi Rumbai Koteka berjalan, pengendalian sosial pada perilaku kekerasan berhasil dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari turunnya angka kriminalitas yang dilakukan oleh anak pada tahun 2017 terjadi 40 kasus dan pada tahun tahun 2020 mengalami penurunan yaitu 10 kasus.” Jelas Kapolda.

Dikatakan bahwa, implemebtasi program tersebut sebelumnya melalui pendekatan dengan berbagai Tokoh berdasarkan kearifan lokal yang hidup di Masyarakat Kokoda.

“Dalam hal ini, inovator melakukan pendataan jumlah anak Kokoda yang putus sekolah, tidak mampu dan buta aksara.”katanya

Lalu kemudian membangun komunikasi dengan pemerintah setempat, dalam hal ini Kelurahan Klawasi, salah satu upaya strategis yang di ambil yakni membuat Rumah belajar Parmanen dan Non Parmanen

“Kegiatan yang dilakukan di Rumah Belajar dengan pengenalan calistung, pendidikan karakter, pelatihan dan ketrampilan

Program ini di bantu oleh Yayasan Kesehatan Masyarakat dan Sekolah Mustjahidin untuk program kelas jauh. Adapun buku bacaan di peroleh dari para relawan Pustaka Bergerak Indonesia.

“Saat ini rumah belajar telah berkembang dan berada pada tiga lokasi di Kelurahan Klawasi Distrik Sorong Barat dengan jumlah murid sebanyak 120 orang,” ujarnya.

Kapolda berharap, kedepan untuk keberlanjutan Program inovasi Rumbai Koteka, diperlukan sejumlah program lain yakni, kerja sama antara Polri dan Sekolah Mjustjahidin.

“Adanya Komitmen dan dukungan pimpinan, Melanjutkan kolaborasi antara para penggiat dan komunitas literasi, Berkolaborasi dengan pihak Pemda” katanya sembari menambahkan bahwa

“Menggandeng Dinas Pendidikan untuk mendukung keberlanjutan rumah belajar, Menambah jumlah tenaga pengajar, Melakukan penambahan program pelatihan. Pemda harus menangkap dan memanfaatkan kesempat ini” ujarnya.

Kapolda Irjen Pol Dr Tornagogo saat memaparkan inovasi Rumbai Koteka secara virtual kepada 11 Panel Independen .

Meski demikian, kata Kapolda Papua Barat bahwa di masa pandemi Covid-19 saat ini kegiatan pembelajaran tetap berjalan dengan mebggunakan metode tatap muka dan memperhatikan Protokol kesehatan.

“Bhabinkamtibmas selaku inisiator mengurangi jam belajar yang awalnya 2 Jam dikurangi satu jam pada Sore” katanya.

Bripka Sandry Yusuf Rante Datu selaku Bhabikamtibmas mengatakan, program yang digagas sejak Tahun 2017 tersebut meski dalam pelaksanaannya ada beberapa tantangan salah satunya adalah perpindahan orangtua dari satu tempat ke tempat lain atau saat orangtua hendak ke kebun kerap diikuti oleh anak-anak.

“Ini yang jadi kendalah selama ini sehingga kami sulit memantau perkembangan Anak-anak”kata Bripka Yusuf yang pernah menerima Penghargaan Pin Emas dari Mantan Kapolri, Jendral Polisi Idham Azis.

Kata dia ada perubahan secara signifikan terhadap pola pikir masyarakat sejak Program ini berlangsung, mereka yang awalnya menyelesaikan persoalan dengan cara kekerasan kini mulai ditinggalkan.

“Setiap persoalan yang awalnya diselesaikan dengan cara kekerasan kini mereka menyelesaikan dengan cara kekeluargaan” kata Yusuf yang dijanjikan Kapolda akan diberikan penghargaan mengikuti jenjang Pendidikan Perwira.

Selama ini kata Yusuf, anak-anak usia 6 sampai 10 Tahun yang ikut didik di rumah baca Rumbai Koteka ketika sudah mengenal huruf, tulis baca dan hitung akan direkomendasikan sekolah lanjutan formal di SD Musjahidin.

“Jadi SD Musjahidin inilah yang menampung Anak-anak setelah di evaluasi” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kepala Biro Rena Polda Papua Barat, Kombes Pol. S. Budi Prasetiyo, sejumlah perwakilan Yakesma serta perwakilan SD Musjahidin Sorong. [kris]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: