Membahayakan.!! Tim Gabungan Swiping Kendaraan ODOL, 13 Unit Berhasil Terjaring 

MANOKWARI,Pabarsatu.com – Sebanyak 13 kendaraan overdimensi dan overload (ODOL) terjaring razia gabungan di Manokwari.

Kendaraan-kendaraan ini diketahui ODOL setelah melewati jembatan timbang portabel dalam operasi gabungan Satuan lalu lintas Polres Manokwari bersama Balai Pengelolah Trasportasi Darat (BPTD) Wilayah XXV serta Balai Pembangunan Jalan Nasional (BPJN) Papua Barat di Trikora Sowi Manokwari, Kamis (10/3/2022).

Pantauan langsung media ini, dalam rangkaian operasi keselamatan mansinam tahun 2022 Polres Manokwari ini, sebanyak 64 kendaraan angkutan barang yang melewati pemeriksaan berat dan ukuran mobil, ditemukan 13 unit yang melanggar ODOL.

Kapolres Manokwari AKBP Parasian Herman Gultom, S.I.K., M.Si melalui Kasat Lantas Polres Manokwari IPTU Subhan S. Ohoimas, S.H mengatakan, setelah dilakukan sosialisasi kemudian kendaraan yang melanggar diberikan teguran tertulis sebagai langkah awal.

Petugas BPTD Wilayah XXV saat memberikan teguran keras terhadap kendaraan overdimensi. (F-K)

Selanjutnya pihaknya akan melakukan evaluasi terkait hal-hal yang terjadi di lapangan, karena itu diharapkan normalisasi dilakukan pemilik kenadaraan terhadap teguran tertulis yang diberikan.

“Kita akan lakukan bagian-bagian yang khusus loading atau pengangkutan, nanti apabila dalam dua minggu kedepan kita tidak mendapat jawaban yang maksimal dari pemilik kendaran maka kita akan lanjutkan dalam penindakan bentuk tilang secara langsung diberikan,” jelas Subhan.

Diharapkan dengan diberikan tilang ini dapat memberikan efek jerah kepada setiap pengendara maupun pemilik kendaraan, sehingga dalam hal membangun keselamatan berlalu lintas di jalan terkait dengan over dimensi over loading ini bisa ditekan supaya mencapai zero ODOL di tahun 2023 mendatang.

Sementara itu, Kepala Seksi Sarana Prasarana BPTD Wilayah XXV Papua dan Papua Barat Denny Irawan Siswoyo,S.SIT.,MM. Tr merincikan dari 13 unit mobil pelanggar ODOL yang over dimensi 7 kendaraan sedangkan over loading 6 kendaraan.

Selain itu, untuk kendaraan pengangkut tersebut terbanyak pengangkut pasir basah dan kendaraan pengangkut aspal Untuk over dimensi tinggi kendaraan jadi umumnya kendaraan- kendaraan tersebut melakukan perubahan pada saat mobil di keluarkan dari karoseri.

Salah satu kendaraan overdimensi yang terjaring dan diberi teguran untuk dinormalisasikan kembali. (F-K)

Menurutnya Tinggi kendaraan itu rata- rata 60 sampai satu setengah meter hal itu sangat berbahaya terutama untuk jalan dan penguna jalan umum lainya. Untuk beratnya mengacu pada 40 persen tergantung dari jenis yang di bawah.

“Jadi untuk sangsi, tidak berikan sangsi tapi hanya memberikan sosialisasi jika terjadi over dimensi dan over load diberikan surat kepada pemilik pengendara untuk dilakukan normalisasi. Untuk normalisasi batas waktunya sampai akhir tahun 2022,”katanya.

Ada beberapa kendaraan, diberikan tanda cat hitam dengan tanda potong itu batas maksimalnya tinggi kendaraan. Jadi tinggi maksimal sesuai tanda tersebut, kalau over dimensi adalah over tinggi kendaraan kalau over loading dari muatan di bawah.

Danny Irawan menegaskan bahwa kelebihan muatan berdampak pada kerusakan jalan resiko akan berakibat fatal bagi kendaraan tersebut dan orang lain

“Jadi over dimensi ada 7 kendaraan dan over loading ada 6 kendaraan. Ada satu kendaraan mengalami over dimensi dan satu kendaraan mengalami over loading jadi. Kami berikan batas waktu akhir tahun ini jika hal tidak di lakukan akan ada penindakan,”ungkapnya.

Kepala seksi Balai Jalan dan Jembatan Balai Prasarana Jalan Nasional (BPJN) Papua Barat, Suraji (Kiri) dan
Kepala Seksi Sarana Prasarana BPTD Wilayah XXV Papua dan Papua Barat Denny Irawan Siswoyo,S.SIT.,MM. Tr m (F-K)

Senada, Kepala seksi Balai Jalan dan Jembatan Balai Prasarana Jalan Nasional (BPJN) Papua Barat, Suraji mengatakan, kendaraan ODOL in akan berpengaruh pada pergerakan badan jalan dan masa pelayanan tidak maksimal.

“Jadi pengaruh dari kendaraan ODOL itu terhadap pondasi dari pada pengerasan badan jalan akhirnya muatan lebih jalan rusak dan retak hancur,” cetusnya.

Dikatakan Suraji bahwa untuk beban jalan nasional maksimal 10 ton dan lebih dari itu berarti sudah over loading. Maka tadi di temukan di lapangan banyak yang lebih ada 15 ton muatan tersebut.

Diungkapkan, bahwa salah satu penyebab utama kerusakan jalan itu di Papua Barat dipengaruhi kendaraan ODOL. Bahkan pihaknya pernah mengundang sejumlah penyedia jasa terkait hal ini.

“Jadi nanti tahun 2023 sudah diakukan tindakan hukum, ini masih sosialisasi,” pungkasnya. [kris]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: