Pengajian Akbar Rohis Se Manokwari, Yayasan Jabal Nur Harap Tumbuhnya Generasi Millenial Islami

MANOKWARI,Pabarsatu.com – Yayasan Jabal Nur Manokwari Papua Barat bersama Pokjawas Papua Barat gelar Pengajian Akbar antar Rohis (Kerohanian Islam) se Manokwari tingkat SMA/SMK, di Masjid Al-Falah AMD Wosi, Ahad (09/4/2022)

Ketua Yayasan Jabal Nur Manokwari Papua Barat Hj. Sahariana, M.Pd yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Papua Barat berharap, pengajian akbar sekaligus silaturrahim antara guru agama islam dan siswa-siswi SMA/SMK mampu merawat dan menumbuhkan generasi millenial yang islami.

“Selain untuk mempererat tali silaturrahim, diharapkan pula sebagai ajang tumbuhnya kesadaran untuk tidak melakukan perilaku yang tidak terpuji yang dapat merusak hubungan,” ucapnya.

Direktur Wilayah LPPKS- BKPRMI Papua Barat, Abdul Karim, SE, saat menyampaikan materinya. (Dok. Ist)

Dalam kegiatan yang bertemakan “Menjalin Harmoni Generasi Millenial berdasarkan Islam” tersebut, Direktur Wilayah Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Keluarga Sakinah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (LPPKS- BKPRMI) Papua Barat, Abdul Karim, SE, yang menjadi penceramah menitik beratkan pentingnya meraih keharmonisan hidup bagi generasi penerus umat ini dengan penuh optimis dan tetap dalam nuansa keislaman.

Sering manusia keliru dalam memahami faktor-faktor yang menjadikan terwujudnya kehidupan yang harmonis. disangka, harmoni adalah hasil dari kesamaan berfikir, rasa dan tindakan, dikira harmoni adalah hasil dari kenyamanan dan keselarasan yang terjadi tanpa ada konflik sama sekali, padahal, dalam dunia nyata tidak seperti demikian adanya.

“Harmoni adalah hasil dari saling memahami satu sama lain, saling memaklumi perbedaan yang memang telah menjadi suratan taqdir dan saling memaafkan ketika terjadi gesekan dalam pergaulan. intinya keharmonisan atau keselarasan dapat terwujud apabila kita selalu membudayakan gerakan saling bukan membudayakan gerakan paling,” ucap Abdul Karim.

Kata dia, seperti itulah Harmonika, Piano, Biola, seruling, Angklung dan alat-alat musik lainnya, adalah gambaran bahwa perbedaan tidak menjadi masalah jika di pegang oleh orang yang tepat. Maka segala perbedaan yang ada justru menjadi nada-nada indah dan menjadi relaksasi hidup.

Dan islam, telah memberikan gambaran bahwa perbedaan ada keniscayaan, perbedaan jenis kelamin dan perbedaan suku bangsa tidak menjadi halangan untuk hidup berdampingan-harmoni.
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat 49 : 13),” sebut Abdul Karim mengutip firman Allah SWT.

Mengakhiri ceramahnya, Abdul Karim berpesan agar siswa/siswi menjadikan ketaqwaan sebagai jalan untuk menuju keharmonisan hidup sebagaimana tujuan utama dari perintah menjalankan Ibadah puasa yaitu لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Yakni Agar kamu bertaqwa,” pintanya.

Pengajian Akbar menjadi semakin semarak dengan diakhiri Quis berhadiah uang tunai dan pembagian sembako oleh Yayasan Jabal Nur Manokwari Papua Barat untuk 36 Peserta didik yang telah dipilih dari setiap sekolah oleh masing-masing Guru PAI. [*]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: