Seorang Ibu Yang Tergantung Tali Di Pantai BLK Dan 2 Anaknya Dipastikan Korban Bunuh Diri, Ini Faktanya

MANOKWARI,Pabarsatu.com – Penyidik Polres Manokwari memastikan seorang ibu paruh baya yang ditemukan tergantung dengan seutas tali di leher di bibir Pantai BLK Manokwari Selasa 22 Februari 2022, adalah korban bunuh diri.

Pernyataan ini diungkapkan Kapolres Manokwari AKBP Parasian Herman Gultom di hadapan sejumlah awak media, dan sang suami serta keluarga almarhumah, Rabu (23/02/2022).

Dikatakan, setelah mengevakuasi jenazah almarhumah RH dan anaknya PF (5) berjenis kelamin perempuan dan AS bocah laki-laki yang masih berusai 3 tahun, pihaknya secara maraton memeriksa sejumlah saksi dan olah tempat kejadian perkara.

“Ada 9 saksi yang sudah kita periksa dan dari saksi-saksi ini kami simpulkan kronologis bahwa almarhumah ini meninggalkan rumah (Bersama kedua anaknya , red),” ungkap Gultom.

Namun sebelumnya jelas Gultom, tepatnya pada Sabtu 19 Februari 2022, korban RH bersama suaminya teribat percecokan hingga sang suami meninggalkan rumah serta anak-anak dan menetap di salah satu rumah kerabatnya di Sowi Marampa.

Kemudian pada Senin tanggal 21 malam lanjut Gultom almarhumah RH mengajak anak tertuanya untuk ikut keluar rumah bersamanya, namun sang anak menolak hingga memukul sang anak.

“Berdasarkan keterangan saksi, sekitar pukul 04.00 WIT (Selasa tanggal 22 Februari, red) almarhumah hanya mengakak dua anaknya keluar rumah dan meminjam kunci sepeda motor serta hand phone milik tetangganya (Saksi). Namun untuk kemana perginya saksi tidak melihat,” terangnya.

Sejak saat itulah ucap Gultom, almarhumah bersama dua anaknya meninggalkan rumah. Kemudian sekira pukul 07.00 WIT, salah satu saksi melihat korban berjalan mondar mandir di sekitar tkp hingga pukul 10.00 WIT saksi tersebut mendapat kabar ada seorang yang gantung diri di tkp tersebut.

Berdasarkan pemeriksaan hand phone milik korban dan suaminya JM bahwa sesaat sebelum ditemukan tewas sekira pukul 09.30 WIT, terdapat komunikasi melalui pesan singkat, salah satunya korban mengancam akan membunuh anak-anaknya dan mengakhiri hidupnya sendiri jika sang suami tak kembali pulang ke rumah.

“Kalau tidak pulang (Kerumah , red) saya akan membunuh anak-anakmu dan saya gantung diri,” demikian ucapan korban melalui pesan singkat ke hand phone milik suaminya.

Tak berhenti di situ, polisi mecocokkan hasil olah tempat kejadian perkara dan hasil visum korban, ditemukan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan melainkan tanda-tanda gantung diri.

“Lidah terjulur, tampak lebam mayat, bekas tali di leher kemudian lidah menjulur keluar dan tampak kaku ke seluruh tubuh,” beber Gultom.

Menurutnya, dari seluruh rangkaian penyelidikan yang dilakukan secara maraton sejak ditemukan korban bersama kedua anaknya, pihaknya telah menyimpulkan sementara.

“Patut diduga bahwasanya korban RH menghilangkan nyawa sendiri dengan cara menggatungkan dirinya. Kemudian patut diduga untuk kedua anaknya sang ibu menenggelamkan kedua anaknya setelah itu menghilangkan nyawanya sendiri dengan cara gantung diri,” ungkap Gultom.

Meski demikian kata Gultom, jika ada bukti lain dalam peristiwa ini, tak menutup kemungkinan kasus ini akan dibuka kembali.

“Jika pun nanti ada bukti baru yang mengarah kepada dugaan lain tentu kami akan dalami dan ungkap,” pungkasnya.

Pengakuan JM Sang Suami

Seiring berjalannya usia pernikahan mereka lebih 10 tahun, almarhumah RH jika terlibat percecokkan bersama suami sering mengeluarkan kata-kata hingga mengusir sang suami dari rumah. Tak hanya itu, kata JM, sang istri bahkan sering mengancam untuk bunuh diri.

“Kalau telepon bunuh diri itu bukan kali ini, sudah berulang-ulang dan saya anggap itu dusta (Berbohong , red) saja. Pernah juga saya keluar dari rumah 1 bulan tapi tidak terjadi apa-apa. Makanya saat dia bilang mau bunuh anak-anak dan bunuh diri saya kira maen-maen saja,” ungkap JM kepada sejumlah awak media.

Dengan peristiwa ini, JM pun merasa menyesal dan tak menyangka sang istri nekat mengakhiri hidup bersama kedua anaknya dengan cara tragis.

“Saya menyesal dan saya juga sayangkan anak-anak tidak berdosa ikut jadi korban,” ucapnya dengan tatapan mata berkaca menahan sedih yang menimpanya. [kris]

 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: